Sunday, May 25, 2014

Kencing Manis Ketika Hamil -- Mengapa bisa terjadi?

Seorang ibu, katakanlah namanya Tuti, terkejut ketika dokter mengatakan ia menderita diabetes dalam kehamilan.  Tuti bukan penderita kencing manis sebelum hamil.  Ia juga tidak merasakan gejala apa-apa selama kehamilan ini.  Ia tidak menyangka akan terkena kencing manis ketika hamil.

Ini adalah jenis diabetes yang didapatkan ketika seorang wanita mengalami kehamilan.  Karena keunikan mekanismenya, diabetes jenis ini diklasifikasikan sebagai jenis tersendiri.  Apa yang sebenarnya terjadi?  Mengapa ada penyakit yang tega menyerang seorang wanita yang sedang hamil pula?  (Mohon maaf, untuk kepentingan artikel ini si penyakit pengecut ini akan kita ungkap latar belakangnya).

Makanan yang kita makan akan diuraikan salah satunya menjadi suatu jenis gula yang disebut glukosa. Glukosa akan dipergunakan oleh, antara lain, otot-otot tubuh manusia sebagai sumber energi.  Tapi, tunggu dulu, untuk bisa masuk ke dalam otot para gula yang manis-manis ini harus ditemani pasangan hidupnya yang bernama insulin.  Insulin adalah hormon yang diproduksi dalam tubuh manusia.  Insuin ibarat cowok ganteng yang diperebutkan para gadis gula yang manis, jumlahnya pada orang tertentu karena sesuatu hal menjadi tidak mencukupi.  Padahal syarat mutlak untuk bisa masuk "rumah" alias jaringan sel otot, harus ditemani insulin.

Lalu, apa hubungannya dengan perkara hamil dong?   Ketika seorang wanita hamil, terjadi perubahan pada tubuhnya yang membuat sel-sel tubuh seorang wanita menjadi kurang responsif terhadap kedatangan insulin.  Untungnya, pada sebagian besar orang normal, ini diatasi dengan diproduksinya insulin dalam jumlah yang lebih banyak di dalam badan.  Ini dikerjakan oleh sebuah organ di dalam perut yang bernama pankreas.

Wah, ini organ yang gimana lagi, ya?  Ini organ unik, tempatnya di bawah liver, bentuknya kayak ikan lele, "kepalanya" bersandar di usus sementara "ekornya" bersandar di limpa. Fungsinya banyak, antara lain penghasil getah pankreas yang berguna untuk pencernaan makanan di usus.  Tapi fungsinya yang menonjol adalah sebagai penghasil beberapa jenis hormon, salah satunya adalah hormon insulin.

Jadi, kalau pankreas tidak bisa menghasilkan insulin pada waktu kehamilan maka sang wanita akan menjadi diabetes, begitu?  Benar.  Jika produksi insulin tidak berhasil mengejar kebutuhan insulin tubuh yang meningkat pada waktu hamil, maka kadar gula dalam darah akan naik tidak terkendali sebab gula tidak bisa masuk ke dalam otot dan hanya mondar-mandir di dalam aliran darah.  Inilah yang disebut diabetes dalam kehamilan atau kencing manis ketika hamil.

Kabar baiknya, sebagian besar wanita yang terkena kencing manis ketika hamil tidak keterusan menderita diabetes setelah hamil alias diabetesnya hilang setelah melahirkan.  Tapi, sekali lagi TAPI, kalau anda sudah permah kena diabetes dalam kehamilan, maka kemungkinan untuk mendapatkan diabetes di waktu yang akan datang akan lebih besar.

Bagaimana saya tahu bahwa saya terkena kencing manis ketika hamil?  Kencing manis ketika hamil atau diabetes dalam kehamilan biasanya tidak ada gejala.  Itu sebabnya sebaiknya ibu hamil memeriksa kadar gula darah sebagai tes pada usia kehamilan antara 6 sampai 7 bulan.  Tapi ada faktor lain yang perlu diwaspadai sejak dini yaitu kalau orang tua anda (ayah atau ibu, atau kakek/nenek) adalah penderita diabetes, atau anda sudah gemuk jauh sebelum kehamilan yang sekarang, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih dini dan rutin.

Test apa yang bisa jadi petunjuk bahwa saya kena kencing manis? Test urine dengan dipstick bisa menunjukkan adanya gula dalam kencing.  Tapi, kalau tes ini positif (gula positif dalam urine), bukan berarti sudah pasti kena kencing manis.  Perlu periksa gula darah puasa ataupun sesudah makan, atau tes khusus yang disebut tes toleransi glukosa, untuk memastikan bahwa anda sudah kena kencing manis ketika hamil.


Enhanced by Zemanta

Saturday, April 26, 2014

Obat Asam Urat Yang Manjur - Ketahui Masalahnya

English: The Gout by James Gillray. Published ...
English: The Gout by James Gillray. Published May 14th 1799. (Photo credit: Wikipedia)
Penyakit asam urat (gout, atau penyakit pirai) dikenal sebagai penyakit para raja, karena turunan para bangsawan di Inggris konon selalu mewarisi penyakit ini.  Tapi bukan berarti si asam urat ini boleh dipajang dijadikan status simbol kebangsawanan, karena penyakit ini dikenal pula sebagai rajanya sakit.  Jangan sekali-kali pernah berharap untuk terserang asam urat, karena nyerinya konon rasanya benar-benar mak nyuuusss.

Orang yang sedang terserang nyeri asam urat cuma punya satu harapan dalam benaknya: obat yang bisa menyembuhkan sesegera mungkin alias obat asam urat yang manjur.  Kalau bisa, sekali tenggak asam uratnya langsung kabur dan menghilang selama-lamanya. Bahkan kalau boleh, baru dilihat pun nyerinya sudah mohon pamit (ya ampun, harap maklum namanya juga pingin cepat sembuh).  Tapi di permukaan planet bumi ini, apakah ada obat asam urat yang paling manjur jur jur jur kayak gitu?

Untuk mengetahui jawaban pertanyaan ini, perlu dimengerti dulu persoalan mendasar yang dihadapi oleh seorang penderita ketika terkena penyakit asam urat.  Masalah utamanya ada dua, yaitu kadar asam urat yang tinggi di dalam darah dan serangan nyeri yang berulang-ulang.  Banyak terjadi kesalah-pahaman di kalangan masyarakat tentang masalah ini.

Kesalahpahaman terjadi karena seseorang yang terserang nyeri mengira bahwa obat pereda nyeri yang ia minum adalah obat yang menurunkan asam urat.  Banyak orang mengira bahwa jika nyerinya sudah hilang maka itu berarti asam uratnya sudah turun.  Karena kesalahpahaman ini kebanyakan penderita mengartikan obat asam urat yang manjur sebagai obat yang meredakan nyeri dengan cepat (yang disangka sekaligus juga menurunkan asam uratnya).  Salah besar.

Obat-obat pereda nyeri yang banyak beredar seperti fenilbutason, piroksikam, asam mefenamat, natrium diklofenak, parasetamol, ibuprofen, deksametason, prednison, dan lain-lain adalah obat yang menghilangkan nyeri tapi tidak menurunkan kadar asam urat.  Sementara itu, allopurinol merupakan obat yang berefek menurunkan asam urat dan menjarangkan serangan nyeri, tapi tidak menghilangkan nyeri secara instan setelah dikonsumsi.  Sering terjadi orang membaca bahwa allopurinol adalah obat asam urat lalu merasa kecewa karena setelah mengkonsumsi allopurinol nyerinya tidak reda malah makin menjadi.  Lalu timbul anggapan bahwa allopurinol bukan obat asam urat yang manjur.

Di luar negeri sudah beredar obat penurun asam urat generasi terbaru yaitu febuxostat, yang diedarkan dengan nama dagang seperti Feburic© dan Atenurix©.  Apakah febuxostat merupakan obat asam urat yang paling manjur?  Tergantung pada definisi anda tentang apa yang anda maksud dengan "yang paling manjur".  Untuk menghilangkan nyeri dalam waktu singkat, febuxostat ataupun allopurinol bukan jawabannya.  Untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah barangkali febuxostat cukup menjanjikan, tapi sampai tulisan ini dipublikasikan kita masih menantikan ijin edarnya di Indonesia.

Jika anda menghadapi masalah asam urat dan komplikasinya, berkonsultasilah dengan dokter anda.

(Tulisan ini merupakan bagian awal dari sebuah seri artikel tentang asam urat.  Nantikan tulisan berikutnya.  Follow saya di Google+ atau Facebook untuk menerima update terbaru)
Enhanced by Zemanta